Jumat, 09 Januari 2015

CARA BUDIDAYA TANAMAN JAHE YANG BAIK DAN BENAR



Jahe digolongkan ke dalam suku temu-temuan atau Zingibereceae bersama dengan temulawak, kunyit, temu hitam, kencur, lengkuas dan lain-lain. Sama seperti temu-temuan lainnya, jahe juga lazim digunakan sebagai herba obat dan bahan bumbu makanan. Jahe mengandung komponen senyawa yang bertanggungjawab atas sensasi panas dan juga aroma khas saat rimpangnya dimemarkan. Jahe tak hanya berfungsi sebagai bumbu dan bahan obat, di beberapa wilayah tertentu, jahe bahkan digunakan sebagai pestisida organik yang ampuh mengusir hama. Jahe memang memiliki beragam khasiat, sebagai tanaman obat, jahe berfungsi untuk karminatif (peluruh kentut), anti-muntah, pereda masuk angin, melebarkan pembuluh darah, anti-rematik dan masih banyak lagi lainnya. Mencermati beragam manfaat jahe ini, sangat wajar jika komoditi yang satu ini dijadikan salah satu tanaman utama petani. Pada dasarnya budidaya tanaman jahe sangat mudah. Jika Anda ingin tahu, berikut uraiannya!

Persiapan Awal

Sebelum membudidayakan jahe, Anda tentu harus memahami beberapa hal sebagai persyaratan tumbuh optimal jahe. Syarat tersebut antara lain iklim. Jahe membutuhkan curah hujan yang tergolong tinggi, berkisar di angka 2.500 hingga 4.000 mm per tahunnya. Sementara itu, penyinaran matahari dibutuhkan tanaman jahe mulai dari umur 2,5 sampai 7 bulan. Oleh sebab itu, median tanam sebaiknya tidak di titik teduh. Tanah yang cocok untuk jahe yakni subur, gembur dan banyak mengandung unsur hara. Lebih optimal lagi jika tanah lempung berpasir dan laterik. Perhatikan pula pH tanah, sebaiknya tanam jahe di tanah dengan tingkat keasaman 4,3 sampai 7,4. Jahe menyukai wilayah tropis dan subtropis, dengan demikian Indonesia sangat baik untuk menjadi sentra budidaya tanaman jahe.


Langkah selanjutnya dalam proses persiapan awal budidaya tanaman jahe adalah menyiapkan bibit. Untuk memenuhi syarat mutu genetik, bibit haruslah memiliki kualitas fisiologik yang berarti progress pertumbuhannya jauh lebih tinggi dan memiliki tampilan fisik yang baik. Untuk mendapatkan bibit terbaik, beberapa tips berikut akan membantu:
 
  • Jangan pernah membeli bibit langsung dari pasar. Jauh lebih baik jika Anda memperoleh bibit jahe langsung dari kebun.
  • Pilihlah bakal bibit dari tanaman jahe yang sudah berusia 9 sampai 10 bulan. Usia tersebut meripakan usia terbaik.
  • Pilihlah tanaman dengan rimpang yang sempurna dalam arti tidak terdapat luka juga lecet.
Setelah mendapatkan bibit bermutu baik, selanjutnya adalah proses penyemaian bibit. Agar tumbuh jahe serentak, bibit terlebih dahulu harus disemaikan sampai tumbuh kecambah. Penyemaian bisa dilakukan di bendengan maupun peti kayu. Jika menggunakan peti kayu, maka pertama, rimpang jahe yang dijadikan bibit harus dijemur tetapi tidak sampai kering. Setelah itu, rimpang tersebut disimpan selama 1 sampai 2 bulan. Setelah masa penyimpanan selesai, rimpang biasanya akan ditumbuhi tunas antara 1 sampai 3 per rimpang. Pisahkan masing-masing tunas tersebut dengan cara dipatahkan. Setelah terpisahkan, masing-masing tunas kemudian dijemur selama setengah sampai satu hari. Selanjutnya, siapkan larutan fungisida dan zat timbuh dalam satu wadah. Tunas yang telah dijemur kemudian dimasukkan ke dalam karung dengan pori-pori besar dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida dan zat tumbuh. Diamkan selama 1 menit.


Proses selanjutnya adalah memasukkan tunas yang telah direndam larutan tumbuh ke dalam peti kayu. Susun tunas dengan sekam padi, pastikan dasar peti kayu adalah tunas dan kemudian tutup dengan sekam padi dan masukkan lagi tunas kemudian tutup lagi dengan sekam tadi. Pastikan lapisan paling atas peti kayu adalah sekam padi. Masa penyimpanan tunas dalam peti kayu kira-kira 2 sampai 4 minggu. Setelah mencapai mas tersebut, bibit sudah bisa disemai dan siap ditanam pada lahan sebenarnya.

Jika Anda memilih cara penyemaian dengan bedengan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat rumah penyemaian dengan ukuran 10 x 8 meter. Rasio ukuran tersebut untuk menyemai 1 ton bibit jahe. Sebelum memasukkan bibit, pastikan rumah tersebut telah dibuat bedengan dengan menggunakan tumpukan jerami. Ketebalan jerami mencapai 10 cm. Rimpang yang menjadi bibit kemudian disusun dalam bedengan kemudian ditutup jerami, kemudian disusun lagi lapisan selnajutnya dengan bibit jahe dan ditutup jerami lagi, begitu selnajutnya sampai didapatkan 4 susun bibit jahe dan jerami. Setiap hari, tumpukan bibit dan jerami ini disemprot dengan larutan fungisida dan zat tumbuh.

Masa penyemaian di bedengan biasanya memakan waktu 2 minggu. Setelah itu Anda bisa membuka bedengan dan memilih bibit berkualitas untuk selanjutnya ditanam. Masing-masing rimpang bibit bisanya ditumbuhi 3 sampai 4 tunas. Pisahkan tunas tersebut dan bibit siap ditanam.

Sebelum dipindahkan ke lahan sebenarnya, bibit jahe harus disortir. Pastikan bibit bebas dari penyakit. Selanjutnya masukkan dalam karung dan diclupkan lagi ke dalam larutan fungisida. Diamkan selama 8 jam. Setelah itu bibit kemudian dijemur selama 2 sampai 4 jam. Setelah semuanya rampung, bibit sudah siap dipindahkan.

Proses Penanaman, Pemeliharaan Dan Panen

Sebelum menanam bibit jahe, pastikan lahan tanam sudah siap untuk digunakan. Akan jauh lebih optimal lagi jika tanah tersebot diolah menjadi bedengan-bedengan untuk menghindari kondisi air tanah yang kurang baik. Selanjutnya, pada bedengan tersebut dibuat lubang tanam dengan kedalaman 3 sampai 7 cm. Setelah semuanya siap, tanamlah bibit pada lubang tersebut dengan cara direbahkan. Masa penanaman terbaik adalah di awal musim penghujan agar pasoka air untuk jahe yang baru ditaman jauh lebih besar.

Pada usia 2 sampai 3 minggu, petani harus mengamati jahe. Jika ada bibit yang tidak tumbuh atau mati, harus segera dilakukan proses penyulaman, yakni mengganti dengan bibit baru. Pada usia 3 sampai 6 minggu, proses penyiangan sudah bisa dilakukan. Namun hal ini juga bergantung pada kondisi gulma di sekitar jahe. Setelah berusia 6 sampai 7 bulan, tidak lagi diperlukan proses penyiangan sebab di umur tersebut, tanaman jahe sudah memiliki rimpang yang kuat dan besar.

Langkah pemeliharaan selanjutnya dalah dengan pembumbunan. Tanah tempat jahe ditanam harus senantiasa gembur jadi petani sebaiknya mencangkul tipis-tipis tanah sekitar tanaman. Selain untuk menggemburkan, langkah ini juga bisa untuk menutup rimpang jahe yang kadang-kadang muncul di atas permukaan tanah. Langkah selanjutnya dalah pemupukan. Sebaiknya gunakan pupuk organik karena jahe termasuk herba obat. Penggunanaan bahan kimia akan membuat khasiat jahe berkurang. Pemberian pupuk organik dilakukan di masa awal penanaman dan juga saat melakukan pembumbunan juga penyiangan. Cara mengaplikasikan pupuk dengan ditebar atau dicampur dengan tanah.

Proses pemeliharaan tanaman jahe lainnya adalah pengairan dan juga penyiraman. Jahe sebenarnya tidak memerlukan air yang banyak, terlebih jika air hujan mencukupi terutama di masa awal penanaman. Adapun langkah penyiraman dilakukan dalam kadar tertentu tergantung kondisi tanah. Yang pasti, tanah harus gembur. Tidak kering tapi tidak juga tergenang air. Selanjutnya adalah penanggulangan hama penyakit. Binatang penggangu tanaman jahe biasanya adalah :
  • Kepik, menyebabkan daun jahe berlubang.
  • Ulat penggesek akar. Binatang ini menyerang akar dan jika tidak ditanggulangi, tanaman jahe akan kering dan mati.
  • Kumbang.
Langkah taktis menanggulangi hama dengan menyempritkan pestisida secara berkala. Sebaiknya gunakan pestisida nabati bisa berupa tembakau yang ampuh untuk serangga kecil semacam Aphidis. Selain tembakau, petani juga bisa menggunakan piretrum yang amput mengusir ulat penggerek akar, lalat rumah, nyamuk, hama gudang, lalat buah dan lain-lain.

Setelah semua proses selesai, petani tinggal menunggu masa panen. Langkah pemanenan tergantung pada peruntukan jahe. Untuk jahe bumbu, sudah bisa dipanen di usia 4 bulan. Jika budidaya tanaman jahe ditujukan untuk industri pabrikan, sebaiknya dipanen di usia 10 sampai 12 bulan. Cara memanen harus hati-hati, tanah dibongkar menggunakan alat seperti garpu atau cangkul. Pastikan alat Anda tidak mengenai rimpang jahe. Setelah dipanen, jahe disimpan di tempat terbuka yang tidak lembab. Jangan ditumpuk, lebih baik jika disebar.


http://dijamin-dasyat.blogspot.com/2013/12/cara-budidaya-tanaman-jahe-yang-baik.html

Budidaya Tanaman Lengkuas




Budidaya Tanaman Lengkuas

Berikut adalah budidaya tanaman Lengkuas yang baik dan benar, Tanaman dapat diperbanyak dengan rimpang atau biji, namun umumnya lebih mudah diperbanyak dengan menggunakan rimpang. Rimpang yang baik untuk bibit adalah bagian ujungnya. Pengolahan tanah dilakukan dengan menggemburkan tanah dan dibuat guludan-guludan. Pupuk yang digunakan meliputi pupuk kandang, kompos, dan pupuk buatan. Juga diperlukan bahan-bahan kimia untuk pemberantasan gulma. Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 2½ – 3 bulan, dan jangan lebih tua dari umur tersebut, karena rimpang akan mengandung serat kasar yang tidak disukai di pasaran.

Perbanyakan tanaman lengkuas dapat menggunakan potongan rimpang yang sudah tua dan bertunas atau rimpang anakan, kemudian dipecah-pecah menjadi beberapa ruas dengan 2-3 tunas dalam tiap pecahannya atau disesuaikan dengan rencana kebutuhannya. Rimpang tua sebaiknya dipilih yang beratnya 50 gram, dan ukurannya seragam. Rimpang dapat ditunaskan di atas 3- 5 lapisan jerami atau alang-alang alang- alang yang dihamparkan di atas tanah. Penyemaian juga dapat dilakukan di atas rak- rak kayu. Penyiraman selama pembibitan sampai bertunas dilakukan untuk memelihara sebagian besar mata rimpang. Pertunasan dianggap cukup bila semua atau sebagian besar mata rimpang sudah tumbuh 1- 2cm, biasanya berumur 3-4 minggu. Setelah rimpang bertunas atau dipelihara selam 1-2 bulan, bibit yang pertumbuhannya seragam siap ditanam di lahan. Untuk proses pembibitan, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan lebih mendalam yaitu sebagai berikut:

Pembibitan

Persyaratan bibit : bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit. Oleh karena itu kriteria yang harus dipenuhi yaitu:
(1) Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
(2) Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan). (3) Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

Teknik penyemaian bibit: untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.

1) Penyemaian pada peti kayu

Rimpang yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit tersebut sudah disemai.

2) Penyemaian pada bedengan

Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

3) Penyiapan Bibit
 
Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

Pengolahan Lahan

1) Persiapan Lahan: Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal harus diperhatikan syarat-syarat tumbuh yang dibutuhkan tanaman. Bila keasaman tanah yang ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yang dibutuhkan tanaman maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.

2) Pembukaan Lahan: Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.

3) Pembentukan Bedengan: Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya jelek dan sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan dengan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.

4) Pengapuran: Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, terutama fosfor (p) dan calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.
· Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha.
· Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
· Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.


Penanaman

1) Penentuan pola tanaman: Pembudidayaan secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, karena mampu memberikan produksi dan produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tanaman secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Penanaman secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
· Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
· Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
· Meningkatkan produktivitas lahan.
· Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).

2) Pembutan lubang tanam: Untuk menghindari pertumbuhan yang jelek, karena kondisi air tanah yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk menanam bibit.

3) Cara penanaman: Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan.

4) Perioda tanam: Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya.


Pemeliharaan

1) Penyulaman: Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya diadakan pengecekan untuk melihat rimpang yang mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yang baik serta pemeliharaan yang benar.

2) Penyiangan: Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yang tumbuh. Namun setelah berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.

3) Pembubunan: Tanaman memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman. Namun tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan.

4) Pemupukan:

a) Pemupukan organik: Pada pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk kandang dilakukan lebih sering dibanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.

b) Pemupukan konvensional: Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.

5) Pengairan dan penyiraman: Tanaman lengkuas tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan september.

6) Waktu penyemprotan pestisida: Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan bibit yang untuk disemai dan pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan.

Panen

Waktu panen simplisis rimpang lengkuas di tandai dengan berakhirnya pertumbuhan vegetative seperti daun menunjukkan gejala kelayuan secara fisiologis. Pada keadaan ini rimpang telah berukuran optimal dan umur di lahan 10-12 bulan untuk lengkuas. Pemanenan dilakuakn dengan cara membongkar rimpang dengan garpu atau cagkul secara hati-hati agar tidak terluka atau rusak. Tanah yang menempel pada rimpang di bersihkan dengan cara di pukul pelan-pelan sehingga tanah terlepas.


Pasca panen

1) Pencucian

Rimpang yang telah di hilangkan batang, daun dan akarnya tersebut kemudian di bawa ke tempat pencucian. Rimpang direndam di dalam bak pencucian selama 2-3 jam. Selanjutnya rimpang di cuci sambil disortasi. Setelah bersih, rimpang segera di tiriskan dalam rak-rak peniris selama satu hari. Penirisan sebaiknya di lakukan dalam ruangan atau ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.


2) Perajangan

Perajangan untuk mempermudah pengeringan rimpang lengkuas. Jika lengkuas hendak dikonsumsi dalam keadaan segar maka perajangan tidak perlu di lakukan. Dan rimpang dapat segera di manfaatkan setelah di cuci dan ditiriskan. Perajangan dapat menggunakan mesin atau perajang manual. Arah irisan melintng agar sel-sel yang mengandung minyak atsiri tidak pecah. Dan kadarnya tidak menmurun akibat penguapan. Tebal irisan rimpang antara 4-6 mm. Untuk mendapatkan warna dan kualitas lengkus yang bagus, setelah perajangan rimpang lengkuas diuapi dengan uap panas atau di celup dalam air mendidih selama 1 jam sebelum dikeringkan.


3) Pengeringan

Pengeringan rimpang lengkuas dapat menggunakan matahari langsung, alat pengering beretenaga sinar matahari, di angin-anginkan, atau memakai mesin pengeringan.

· Dengan matahari langsung

Pengeringan dilakukan di tempat cahaya matahari langsung. Sistem ini menggunakan waktu yang agak lama tergantung intensitas dan lama penyinaran.

· Penmgeringan dengan alat berenergi cahaya matahari.

Masih tergantung pada intensitas cahaya dan lama penyinaran, tetapi waktunya relative lebih singkat. Untuk itu, bahan di hamparkan di atas rak pengering.

· Pengeringan dengan mesin

Pengeringan dengan mesin selain lebih cepat juga hasilnya lebih berkualitas. Hal yang perlu di perhatik an dalam pengeringan dengan mesin pengering ini adalah suhu pengeringan yang tepat. Untuk rimpang lengkuas sebaiknya di gunakan suhu pengeringan antara 40-60 0c. waktu yang dibutuhkan 3-4 hari.

by. http://om-tani.blogspot.com/2013/09/budidaya-tanaman-lengkuas.html